Selasa, 11 Desember 2012

Aktivitas Matahari Mencapai Puncak Medio 2013

Matahari saat ini cukup aktif, ditunjukkan dengan munculnya banyak bintik matahari dan ledakan di permukaan matahari atau flare. Meski begitu, sampai saat ini kondisi permukaan matahari belum mengakibatkan dampak berarti bagi Bumi.
Aktivitas Matahari yang mengancam lingkungan ionosfer dan atmosfer Bumi bukan hanya berupa bintik Matahari dan "flare", tetapi juga adanya lontaran massa korona "corona mass ejection"/CME, badai Matahari, dan partikel energetik.
Hal ini disampaikan  Clara Yono Yatini, Kepala Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Selasa (4/12/2012), berdasarkan pantauan teropong matahari milik Lapan. Flare di permukaan matahari sudah masuk tingkat medium.
"Aktivitas matahari diperkirakan akan meningkat hingga mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 2013," ujar Thomas Djamaluddin, Deputi Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional bidang sains, pengkajian dan informasi kedirgantaraan, Rabu (5/12/2012).
"Bintik hitam Matahari diprediksi mencapai jumlah tertinggi pada tahun 2013 hingga 90 buah. Namun, prediksi sumber lain menyebutkan 170 buah, sama dengan kejadian tahun 2000," tutur Clara.
Bintik hitam yang terlihat di teropong itu, lanjut Clara, sesungguhnya adalah puntiran garis medan magnet Matahari. Ini berpotensi menimbulkan flare akibat terbukanya kumparan medan magnet. Selain melepaskan partikel berenergi tinggi, flare juga memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik dan menimbulkan badai Matahari.
Karena itu, aktivitas Matahari yang mengancam lingkungan ionosfer dan atmosfer Bumi bukan hanya berupa bintik Matahari dan flare, tetapi juga adanya lontaran massa korona (corona mass ejection/CME), badai Matahari, dan partikel energetik.

Gangguan atmosfer peningkatan aktivitas Matahari tersebut berpengaruh langsung pada lapisan magnetosfer dan ionosfer. Selain itu kondisi tersebut juga berpengaruh tidak langsung pada dinamika atmosfer global.
"Mekanisme terjadinya gangguan pada dinamika atmosfer Bumi ini belum diketahui pasti," ujar Thomas. Akan tetapi, itu diduga berkaitan dengan adanya sinar kosmik yang terpengaruh aktivitas Matahari dan distribusi panas yang berkaitan dengan perubahan daerah tekanan rendah atau tinggi dan liputan awan.
Kondisi global ini memberi dampak yang beragam di tingkat lokal karena perbedaan kondisi topografi masing-masing daerah. Hasil pengamatan sejak tahun 2000 menunjukkan, gangguan cuaca antariksa terjadi yaitu pada tahun 2000, 2003, dan tahun 2005.
Dampaknya yang muncul pada tahun-tahun tersebut antara lain berupa gangguan komunikasi satelit dan blackout atau padamnya jaringan listrik di sejumlah negara. "Pemantauan dan antisipasi menjelang puncak aktivitas Matahari terus dilakukan," kata Clara.  

Sumber : kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar