Jumat, 15 Maret 2013

ENAM NASIHAT IMAM SYAFI’I DALAM MERAIH ILMU

bljar-ilmuWahai saudaraku engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara:

1. Kecerdasan
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.  Kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Pembagian spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:
    • Pemahaman dan kemampuan verbal
    • Angka dan hitungan
    • Kemampuan visual
    • Daya ingat
    • Penalaran
  • Kecepatan perseptual
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu:
    • Faktor Bawaan atau Biologis
    • Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
    • Faktor Pembentukan atau Lingkungan
    • Faktor Kematangan
  • Faktor Kebebasan
2. Kemauan yang Keras
Rasulullah bersabda, “Berkemauan keraslah kamu kepada apa-apa yang bermanfaat untukmu dan jangan bersikap lemah” HR. Muslim
Dalam bahasa arab kata berkemauan keras yakni “Hirsh” akan coba kita dekati dengan kata “Antusias”.
“Success is going from failure to failure without loss of enthusiasm.”(Keberhasilan berjalan dari kegagalan ke kegagalan tanpa kehilangan antusiasme)- Winston Churchill -
Kata antusias (enthusiast) atau antusiasme (enthusiasm) berasal dari bahasa Yunani kuno “entheos” yang berarti “Tuhan di dalam” dan antusias berarti “diilhami dari Tuhan”. Sedangkan menurut kamus Webster, antusiasme berarti “kegairahan yang kuat terhadap salah satu sebab atau subyek; semangat atau minat yang berapi-api; kegairahan.”
Sikap antusias akan membawa kita pada pikiran, perasaan dan tindakan yang positif. Dale Carnegie telah membuktikan keampuhan antusiasme bagi kesuksesan dirinya, sebagaimana telah ditulis dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Keberhasilan yang Jarang Dikenal.” Ia pernah mengatakan bahwa “antusiasme yang murni dan sepenuh hati adalah satu dari faktor-faktor kesuksesan dalam hampir segala usaha.” Albert Carr, dalam bukunya How to Attract Good Luck tidak menyebut kata antusiasme, tetapi sebagai gantinya ia menyebut kata “semangat” (”zest”) – yang kurang lebih sama artinya dengan antusias -sebagai jalan pintas menuju keberuntungan (the shortcut to luck). Itulah kekuatan dari antusiasme atau semangat. Jadi tidak salah apabila Bertrand Russell menyebut semangat sebagai “tanda paling khusus dan universal dari orang-orang bahagia.”
3. Sungguh-sungguh
Man Jadda Wajada = Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Begitulah bunyi peribahasa arab yang populer. Kesungguhan memang merupakan satu hal yang wajib kita miliki jika ingin berhasil mencapai sesuatu. Dalam kesungguhan itu terkandung mental baja dan sikap pantang menyerah. Ketika bersungguh-sungguh, kita memberikan seluruh energi, hati, dan pikiran kita pada apa yang kita kerjakan. Kita berfokus pada keinginan kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Bukan kesulitan yang mungkin dihadapi untuk mencapainya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Allah  mencela sikap lemah dan tidak bersungguh-sungguh. Kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap ‘cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung.’” (HR. Abu Dawud).
Kesungguhan adalah salah satu wujud keyakinan kita pada Allah. Bahwa Dia bisa mewujudkan apa saja dan kesungguhan kita merupakan salah satu pembuka jalannya. Kesungguhan membuat kita maksimal dalam melakukan setiap hal. Tidak mudah menyerah sebelum mencapai tujuan, meresapi proses perjuangannya dan menikmati buah manis keberhasilan pada akhirnya.
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (QS. An-Najm: 39-42)
4. Memiliki Bekal/Biaya
Para ulama jaman dahulu rela mengorbankan harta bendanya untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu. Abu Hatim yang menjual bajunya untuk dapat menuntut Ilmu, Imam Malik bin Anas menjual kayu atap rumahnya untuk bisa menuntut ilmu, bahkan Al Hamadzan Al Atthar, seorang syaikh dari Hamadzan menjual seluruh warisannya untuk biaya menuntut ilmu. Penunutut ilmu mencurahkan segala kemampuan baik materi atau apapun yang ia miliki hingga ia menggapai cita-citanya hingga ia mumpuni dalam bidang keilmuan dan kekuatannya: baik hafalan, pemahaman maupun kaidah dasarnya.
Wajib bagi penuntut ilmu memiliki bekal paling minimal yakni dia bisa mengisi perutnya untuk sehari-harinya. Jangan sampai dia menjadi seorang yang kelaparan. Orang yang kelaparan terus menerus maka otaknya akan sangat kekurangan nutrisi dan sulit untuk berpikir disamping itu juga tubuhnya menjadi lemah bahkan sakit-sakitan.
5. Berteman dengan Ustadz (Guru)/Tutor
Tidak ada Guru menyebabkan tidak ada yang menegur, membimbing dan mengarahkan agar kita agar tetap berada di jalan yang benar. Guru adalah sumber ilmu, sesudah buku. Pepatah tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Semenjak kita kecil hingga besar perjalan hidup kita ini harus lah selalu atas peranan guru dan juga bimbingan guru. Tidaklah seorang anak manusia di Dunia ini yang bisa pintar tanpa adanya peranan seorang guru. Guru merupakan faktor kesuksesan dan keberhasilan dalam mencari ilmu.
6. Membutuhkan waktu yang lama
Dikatakan kepada Imam Ahmad, “Seorang menuntut ilmu pada guru saja yang memiliki ilmu yang banyak atau dia pergi bertualang menuntut ilmu?”. Ahmad menjawab, “dia bertualang dan menulis dan mendengar dari para ulama di setiap kota”. Bahkan Musa  sendiri yang sudah jadi Nabi berjalan jauh untuk menuntut ilmu.( Fathul Bari)
Imam Bukhari membuat bab khusus tentang keluar menuntut ilmu . lalu beliau mencontohkan sahabat Jabir bin Abdullah. Sahabat dari kalangan Anshar ini pernah melakukan perjalanan selama satu bulan untuk mengambil satu Hadits dari Abdullah bin Unais. (Shohih Bukhari)
Muhammad bin Syihab Az Zuhri berkata, “Yang namanya ilmu, jika engkau memberikan usahamu seluruhnya, ia akan memberikan padamu sebagian.
Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Katsir berkata, “Ilmu tidak diperoleh dengan badan yang bersantai-santai.” (HR. Muslim no. 612).
Memang membutuhkan waktu yang lama bahkan tidak ada batas dalam mencari ilmu. Bahkan sering kita dengar kata-kata mutiara uthlubu ‘ilma minal mahdi ilal lahdi ( tuntutlah ilmu sejak dini hingga mati)

Sumber :  wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar