Selasa, 12 November 2013

Misi Yordania Jegal Langkah Uruguay ke Piala Dunia

Bersinar.com-Pekan ini akan digelar partai play off Piala Dunia 2014. Uruguay dan Yordania menjadi dua tim yang bakal lebih dulu memastikan nasibnya.Mereka akan menggelar duel leg pertama di Amman International Stadium pada Rabu, 13 November 2013.

Uruguay sendiri diketahui terpaksa harus mengikuti play off ini karena hanya mampu duduk di posisi kelima klasemen akhir kualifikasi zona Amerika Selatan atau CONMEBOL.

Sementara jalan panjang harus ditempuh kubu lawan untuk sampai di fase ini. Yordania berhak menantang Le Celeste usai menekuk Uzbekistan di partai play off zona Asia. Kedua kubu sebelumnya diketahui cuma finish ketiga di Grup A dan B babak kualifikasi.


Menyandang status semifinalis Piala Dunia 2010 dan juara Copa America, tak salah rasanya jika banyak pihak cenderung menjagokan tim asuhan Oscar Tabarez. Apalagi, jika melihat materi pemain dimana dalam skuad mereka bercokol sejumlah nama top yang telah melang melintang di kompetisi papan atas Eropa seperti Luis Suarez, Edinson Cavani dan Martin Caceres.

Tapi jangan lupakan juga pepatah "bola itu bundar". Bagaimanapun Yordania masih tetap punya peluang untuk mencatat sejarah lolos ke Piala Dunia untuk pertama kali.

Uruguay di atas angin
Nama besar dan pengalaman menjadi modal Uruguay untuk menghadapi Yordania. Bagi tim yang sudah dua kali tercatat menjadi kampiun turnamen sepakbola sejagat raya ini, tampil di play off seperti menjadi hal lumrah bahkan bisa dibilang tradisi.

Bayangkan, dalam empat pagelaran terakhir mereka harus menjalani skema serupa. Di mulai pada 2002 silam, Uruguay harus bunuh-bunuhan dengan Australia sebelum tampil di Jepang/Korsel. Empat tahun setelahnya kedua tim kembali bertemu di babak yang sama. Hanya saja kini giliran The Aussie gantian mengubur mimpi tim yang dimotori Alvaro Recoba untuk terbang ke Jerman melalui sebuah drama adu penalti.

Pada 2010, Uruguay mencatat hattrick play off. Namun lawan yang dihadapi adalah Kosta Rika. Diego Forlan cs pun berhasil menang agregat 2-1 dan melaju ke putaran final di Afrika Selatan. Di tanah Afrika, 'Pasukan Biru Langit' berhasil tampil memukau. Mereka masuk ke babak empat besar. Sayangnya mereka tumbang oleh Belanda pada semifinal dan dibekuk Jerman dalam perebutan tempat ketiga.

Tak ingin gagal untuk kedua kali dalam empat penampilan di play off, Uruguay pun memilih berhati-hati menghadapi Yordania. Tabarez selaku pelatih mengaku masih kabur dalam meraba peta kekuatan lawan. Namun dia percaya pada leg pertama ini kubu tuan rumah akan membuat timnya sangat kerepotan.

"Jika Yordania memberikan segala kemampuan dan mengambil keuntungan dari status mereka sebagai tuan rumah, maka kami akan sangat kesulitan. Mereka tak punya pemain elit. Tapi untuk membuat pertandingan yang ketat hal tersebut sama sekali tak penting," ungkap Tabarez.

"Saya tak tahu banyak tentang mereka. Tapi sejauh yang saya amati, berpikir Yordania adalah tim seperti Tahiti, itulah yang bakal menjadi masalah," sambungnya.

Hal senada diungkapkan oleh Suarez. Dia paham bahwa lawan akan sangat termotivasi untuk bisa menyulitkan mereka. Selain itu dia juga meminta rekan-rekan setimnya waspada terhadap kecepatan gelandang-gelandang Yordania di laga nanti.

"Yordania akan sangat termotivasi. Kami harus hati-hati. Mereka punya pemain tengah yang cepat. Jika lengah, mereka bisa menghukum kami," ungkap bintang Liverpool tersebut.

Yordania bermodal tekad baja
Sosok pemain bintang, itu memang tak dimiliki oleh Yordania. Tapi bukan berarti tim berjuluk Nashama bisa diremehkan. Kolektivitas dan tekad tim untuk berbuat lebih baik, itulah senjata andalan yang Yordania dipakai selama ini.

Rasanya tidak berlebihan juga jika kubu Uruguay merasa harus benar-benar waspada menghadapi leg pertama itu. Pasalnya, bukti nyata keganasan Yordania ketika bermain di kandang sudah terpampang jelas di depan mata.

Pada fase kualifikasi grup B, anak-anak asuh Hossam Hassan tak pernah menelan kekalahan saat bermain di depan publiknya sendiri. Mereka hanya sekali di tahan imbang Irak. Sedangkan tiga partai lainnya berakhir dengan kemenangan, termasuk dua di antaranya atas dua pemuncak klasemen, Jepang dan Australia, yang di laga tandang sempat membantai mereka 0-6 dan 0-4.

"Sejata utama kami adalah motivasi melawan tim pretisius yang sudah memenangkan Piala Dunia. Seluruh pemain yang dipilih untuk tampil akan memberikan semuanya. Kami harus yakin kerena tak ada yang mustahil dalam sepakbola," ujar penyerang Abdallah Deeb Salim.

Sementara pelatih Hossam Hassan mengatakan jika perjuangan ini bukanlah atas nama Yordania semata. Duel melawan Uruguay adalah perjuangan Asia khususnya jazirah Arab untuk bisa mencatat sejarah lebih baik di kancah sepakbola internasional.

"Yordania adalah tim Arab terakhir yang punya peluang mewakili Asia. Ini merupakan perjuangan negeri Arab dan bukan Yordania semata," tegas pria yang menjadi pilar timnas Turki di Piala Dunia 1990 itu.

Sayangnya, perjuangan Yordania menemui kendala. Mereka tak bisa menurunkan sejumlah pemain pilar seperti kiper Amer Shafi yang terkena suspensi serta absennya gelandang kawakan sekaligus kapten tim Amer Deeb Mohammad Khalil karena cedera. Lalu apakah kondisi ini akan membuat Yordania melemah dan harus pasrah menghadapi Uruguay? Kita lihat saja hasilnya nanti.

Sumber  : .viva.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar