Rabu, 28 November 2012

Tanda-tanda Kekuasaan Allah Pada Penciptaan Burung, Telurnya, paruhnya, Warnanya, Corak dan Bulunya

Kemudian coba perhatikan bentuk tubuh burung. Disebabkan burung telah ditakdirkan terbang di udara maka bobot tubuhnya juga ringan dan ringkas. Burung hanya dilengkapi dengan dua kaki saja tidak empat sebagaimana hewan lainnya. Burung hanya dilengkapi dengan empat jari saja tidak lima. Tempat keluar kotoran dan air kencing juga satu tidak terpisah seperti halnya hewan lain. Burung hanya dilengkapi dengan empat jari saja tidak lima. Tempat keluar kotoran dan air kencing juga satu tidak terpisah seperti halnya hewan lain. Kemudian burung dilengkapi dengan ujung dada depan yang kecil agar mudah menerobos udara kemana saja ia mengarah. Sebagaimana halnya bagian depan kapal dibuat bentuknya seperti itu agar mudah membelah air dan dapat meluncur dengan cepat di atasnya. Kemudian kedua sayap dan ekornya dilengkapi dengan bulu-bulu yang panjang dan berpasangan untuk memudahkan naik turun. Lalu seluruh tubuhnya dibungkus dengan bula agar udara dapat meresap masuk dan membawanya terbang.

Berhubung makanan burung itu adalah daging dan biji-bijian yang ditelan olehnya bulat-bulat tanpa dikunyah, maka burung tidak dilengkapi dengan gigi. Lalu sebagai gantinya burung dilengkapi dengan paruh yang berfungsi untuk mengambil makanan. Sehingga tidak kesulitan dalam mengambil biji-bijian dan tidak bengkok ketika mencabik daging. Berhubung burung-burung itu tidak memiliki gigi sehingga biji-biji yang dimakannya masuk secara utuh tanpa dikunyah maka burung dilengkapi dengan hawa panas pada temboloknya yang akan melumat biji-bijian itu dan memasak daging. Dengan demikian burung tidak memerlukan ayat pengunyah. Bukti yang menunjukkan kepada kita betapa panas hawa dalam tembolok itu adalah biji kismis dan sejenisnya keluar dalam keadaan utuh dari perut manusia dan apabila masuk ke dalam tembolok burung dan di masak di dalamnya maka biji itu tidak akan berbekas sedikitpun.
Kemudian salah satu hikmah ilahi adalah Allah menjadikan burung-burung itu berkembang biak dengan bertelur bukan dengan melahirkan anak. Tujuannya agar tidak memberatkannya. Sebab, sekiranya burung-burung itu mengandung hingga sempurna kandungannya dan berat, tentu sangat berat baginya untuk terbang naik dan turun. Kemudian coba perhatikan hikmah ilahi pada burung yang terbang bebas di udara. Allah memberinya kesabaran selama seminggu atau dua minggu atas kehendaknya. Ia mengerami telur-telurnya dan tabah menanggung kesulitannya. Kemudian apabila telur-telur itu menetas, ia menanggung sulitnya mencari makanan dan mengumpulkan biji-bijian di paruhnya untuk diberikan kepada anak-anaknya yang baru menetas. Burung bukanlah makluk yang memiliki pikiran dan akal tentang nasib dirinya kemudian dan tidaklah mengharapkan apapun dari anak-anaknya seperti yang diharapkan manusia terhadap anak-anaknya. Setiap manusia mengharapkan pertolongan kelak, teman dan nama yang tetap dikenang dari anak-anaknya. Perilaku burung itu menunjukkan bahwa ia sangat belas kasih kepada anak-anaknya. Barangkali ia tidak berpikir tentang kelanjutan anak keturunannya.
Kemudian coba perhatikan bentuk telur, coba lihat kuning telur dan cairan putih di dalamnya. Dari sebagian itulah tercipta anak burung. Dan sebagian lainnya sebagai bahan makanannya sampai anak burung menetas. Coba perhatikan hikmah di balik semua itu. Berhubung anak burung itu dibentuk di dalam selaput yang sangat tertutup rapat, tidak ada celah bagi yang di luar untuk masuk ke dalam, maka Allah menyediakan bahan makanan di dalam telur itu sendiri yang mencukupi hingga telur itu menetas.
Kemudian coba perhatikan bentuk paruh burung, pada saluran makanan sampai ke temboloknya, ukurannya sangat sempit hanya bisa dilewati sedikit makanan. Sekiranya biji-biji yang ia telan berikutnya tidak sampai ke tembolok tentu burung akan membutuhkan waktu lama untuk makan. Berhubung burung-burung itu tidak makan dengan santai, akan tetapi makan dengan sembunyi-sembunyi karena waspada terhadap keadaan sekitarnya, maka paruhnya dibuat seperti keranjang yang tergantung di depannya agar dapat menampung makanan dengan cepat kemudian disalurkan ke tembolok secara perlahan. Paruh juga memiliki keistimewaan lain, yaitu sebagian burung butuh memberi makan anak-anaknya. Maka cara yang paling mudah untuk memberi makanan kepada anak-anaknya adalah dengan paruh.
Kemudian coba perhatikan warna, belang dan coraknya yang dapat engkau lihat pada kebanyakan burung, seperti burung merak, tekukur dan lainnya. Sekiranya warna dan corak itu dilukis dengan pena dan dibentuk dengan tangan niscaya tidak akan bisa seperti itu. Lalu siapakah yang membentuk, melukis dan menciptakannya dalam bentuk yang sangat menakjubkan? Sekiranya semua makhluk berkumpul untuk melukiskan keindahannya niscaya tidak akan mampu.
Coba perhatikan bagaimana bentuk dan warna bulu burung merak! Bentuknya persis seperti tenunan pakaian yang mahal dengan benang yang mahal pula. Satu sama lainnya dirajut rapi seperti rajutan benang dan pintalan rambut. Engkau dapat lihat bila burung merak ingin mengembangkan ekornya maka akan mengembang sedikit demi sedikit. Ekor itu tidak akan terbelit-belit karena udara bisa meresap ke dalamnya. Burung merak dapat menutupnya kembali apabila hendak terbang. Engkau dapat melihat pada tengah bulu ekornya itu terdapat bagian yang keras dan kuat. Bulu-bulu itu terajut di sisi-sisinya seperti rajutan rambut. Bagian tengah yang keras itulah yang disebut dengan ruas bulu yang terletak di bagian tengah bulu. Ruas itu dibuat berongga yang dapat dimasuki udara sehingga dengan begitu dapat mengangkat tubuh burung saat terbang. Mustahil semua itu terjadi secara alami belaka. Dan kalaupun dikatakan sebagai peristiwa alamiah maka itu merupakan bukti yang sangat kuat dan keterangan yang sangat jelas atas kekuasaan Penciptanya. Itulah tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Adapun orang-orang yang beriman akan bertambah pula keimanannya.
Kemudian coba perhatikan burung-burung yang memiliki kaki yang panjang. Burung-burung itu diberi kaki yang panjang disebabkan ia mencari makanan di atas air. Burung-burung itu akan bertumpu pada kedua kakinya yang panjang seolah bagaikan menara dh atas kendaraan. Ia memperhatikan hewan-hewan yang berenang di permukaan air. Jika ia melihat buruannya maka ia akan melangkah perlahan lalu menangkapnya. Kalaulah kakinya dibuat pendek tentunya apabika ia ingin mendekati buruannya untuk menangkapnya maka perutnya akan menyentuh air dan air akan beriak dan bergelombang. Dan hal itu pasti mengejutkan buruannya dan membuatnya lari. Maka diciptakanlah kaki yang panjang agar ia dapat menangkap mangsanya dan tidak merusak acara berburunya.
Setiap burung diciptakan dalam bentuk-bentuk tertentu, seperti kaki yang jangkung dan leher yang panjang. Tujuannya agar mudah meraih makanannya di atas bumi. Jika kakinya panjang namun paruhnya pendek tentu ia tidak akan bisa meraih makanan di tanah. Kadang kala selain lehernya yang panjang burung itu dilengkapi juga paruh yang panjang agar ia semakin mudah meraih makanannya.
Kemudian coba perhatikan burung-burung kecil itu. Mereka mencari makanan sepanjang siang hari. Burung-burung itu tidak pernah kehilangan makanannya dan tidak pernah mendapati makanannya itu terkumpul dan tersedia. Namun ia mencari makanannya dengan terbang kesana kemari ke segala arah dan ke setiap sudut. Maha suci Allah yang telah memudahkannya mencari rizki. Allah tidaklah menjadikannya sebagai sesuatu perkara yang terlalu sulit selama burung itu selalu mencarinya. Dan apabila burung itu diam, maka ia tidak akan memperoleh makanannya. Allah memberinya kekuatan untuk mencari makanannya setiap saat di segala tempat, kendatipun di dinding, di atap dan di loteng. Burung-burung itu memperolehnya setelah bekerja keras, dan tidak akan disertai atau diikuti kecuali oleh burung-burung sejenisnya. Kalaulah makanannya sudah terkumpul dan tersedia seluruhnya maka seluruh burung-burung akan berkumpul dan saling mengalahkan untuk mendapatkannya. Demikian pula kalaulah makanannya sudah terkumpul dan tersedia maka burung-burung itu akan berebutan dan tidak akan mau beranjak dari situ sampai mati.
Demikian pula manusia, sekiranya makanan manusia itu sudah tersedia tanpa harus berusaha dan bekerja keras mendapatkannya maka pasti menjurus kepada kekacauan dan kemalasan. Dan akan terjadi kerusakan yang besar dan akan menyebar perbuatan keji dan penindasan di atas muka bumi. Maha Suci Allah yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui yang tidak menciptakan sesuatu sia-sia belaka.
Coba lihat burung-burung yang hanya keluar pada malam hari, misalnya burung hantu dan kelelawar. Makanannya disediakan di udara, bukan biji-bijian atau daging. Makanannya adalah nyamuk, serangga dan sejenisnya yang banyak berterbangan di udara, hampir-hampir di setiap tempat terdapat serangga tersebut. Apabila diletakkan lentera pada malam hari di atas atap atau di halaman rumah, maka serangga-serangga itu akan berkumpul di sekitarnya dalam jumlah banyak. Serangga-serangga ini sangat kurang kecerdikannya dan sangat lemah tipu muslihatnya. Tidak ada jenis burung yang lebih lemah dan lebih bodoh selain serangga-serangga ini. Sebagai buktinya apabila engkau menghalau serangga-serangga itu maka mereka akan berkumpul di dekat panas api sehingga mereka semua terbakar habis.
Itu merupakan salah satu hikmah dan faedah penciptaan serangga-serangga tersebut. Serangga-serangga itu telah menjadi komoditi makanan bagi sebuah umat yang bertasbih memuji Rabbnya. Sekiranya tidak demikian, niscaya serangga itu akan terus bertambah jumlahnya dan akan menimbulkan mudharat bagi manusia dan akan mengganggu ketenangan mereka.
Sekarang lihatlah kelelawar. Kelelawar termasuk salah satu hewan yang memiliki bentuk yang sangat menakjubkan. Bentuk tuhuhnya perpaduan antara burung dan hewan berkaki empat. Namun secara fisik kelelawar lebih mirip dengan hewan berkaki empat. Kelelawar memiliki dua telinga, gigi dan dubur. Kelelawar juga berkembang biak dengan melahirkan anak, menyusui dan berjalan dengan empat kaki. Kelelawar memiliki dua sayap yang bisa dipakai untuk terbang.
Berhubung penglihatan kelelawar ini lemah dan tidak tahan terhadap sinar matahari maka siang bagi kelelawar seperti malam bagi makhlul lainnya. Apabila matahari tenggelam maka kelelawar-kelelawar itu akan bertebaran. Oleh karena itulah makanan makhluk yang lemah inhpun disesuaikan dengan waktu terbangnya yang hanya pada malam hari. Tidak ada satupun makhluk yang diciptakan sia-sia tanpa hikmah dan arti!
Seorang yang dapat dipercaya menceritakan pengalamannya bahwa ia pernah melihat seekor burung yang bersarang di salah satu pohon. Lalu burung itu melihat seekor ular besar menuju sarangnya dengan membuka mulut siap menelannya. Setelah ia bergerak ke sana kemari mencari tipu muslihat untuk menyelamatkan diri, ia menemukan sebatang kayu di dalam sarangnya. Burung itu meraih batang kayu itu dan melemparkannya ke dalam mulut ular yang tengah menganga. Maka ular itupun meliuk-liuk kesakitan sampai mati!
Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al Imam Ibnul Qayyim, karya Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin (penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Maidani), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Sya’ban 1423 H / Oktober 2002 M, hal. 188-194.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar